Point of View

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengemukakan pendapatnya tentang sebuah masalah. Yang mana masalah itu dipahaminya dari berita di media massa.

Namun ternyata, untuk memahami masalah itu sendiri malahan menjadi masalah. Karena orang tidak membaca atau mendengar berita di media massa secara utuh.

Apalagi pengaruh subjektifitas sangat berperan penting dalam proses membentuk opini.

Sebagai contoh : Ketika anak kita berkelahi dengan teman sekelasnya yang masih duduk di playgroup (usia 5-6 tahun), kebiasaan kita orang tua yang sangat menyayangi anaknya adalah membela sang anak. Padahal informasi yang masuk ke otak si orang tua, baru dari satu pihak (si anak). Sehingga tanpa klarifikasi, langsung menjewer telinga teman yang menjadi “seteru” anaknya. Selanjutnya… kita bisa menduga apa yang terjadi… ketika orang tua teman si anak mengetahui anaknya dijewer seseorang.

Namun ada juga orang di luar lingkaran masalah yang mencoba memahami permasalahan, namun tidak secara utuh. Ini sering dikisahkan seperti 4 (empat) orang buta yang individualistis baru mengenal seekor gajah di kebun binatang ragunan.

Kesimpulan dari 4 (empat) orang buta itu adalah :

Orang pertama : Gajah itu bentuknya bulat dan panjang seperti pohon kelapa. (yang dipegangnya adalah kaki)

Orang kedua : Gajah itu bentuknya tipis, lebar, dan bergerak-gerak seperti kipas. (yang dipegang adalah telinga)

Orang ketiga : Gajah itu bentuknya panjang dan kecil seperti seutas tali. (yang dipegang adalah ekor)

Orang keempat : Gajah itu bentuknya bulat, panjang, dan bergerak-gerak seperti ular besar. (yang dipegang adalah belalai)

Keempat orang buta yang individualistis ini menceritakan kepada setiap orang yang ditemuinya mengenai pengetahuan mereka masing-masing tentang sosok seekor gajah.

Bagi orang yang sudah pernah melihat sosok seekor gajah, tentunya bukan masalah.
Dengan kemampuan dari masing-masing orang buta tadi meyakinkan yang lain, cerita ini tersebar kepada sekelompok orang buta yang belum pernah kenal gajah. Maka timbullah berbagai macam pendapat, kemudian terbentuk kelompok pendukung.

Masing-masing dengan militansi yang tinggi mendukung keempat orang buta tadi dengan tetap mempertahankan POINT OF VIEW mereka tentang sosok sang gajah.

Sampai kapan sosok sang gajah akan benar-benar dikenal utuh oleh keempat orang buta itu? Kalau masing-masing tetap ngotot bahwa MEREKA PALING BENAR.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s