Inikah Fungsi HUKUM?

Kenapa selalu mengatasnamakan HUKUM dan KEADILAN untuk memidanakan warga negara Republik Indonesia yang melakukan pencurian karena kemiskinan.
Apakah tidak cukup dengan mediasi dan memberikan fasilitas kepada warga miskin agar memiliki taraf hidup yang sama dengan PARA JURAGAN PT. RUMPUN SARI ANTAN
Apakah tidak dikedepankan upaya untuk mensejahterakan rakyat miskin daripada memenjarakan mereka.
Wahai PENGUASA, itukah perlakuan kalian kepada rakyat yang membayar kalian!!!
Saya percaya, KEADILAN HAKIKI, akan menghampiri PENGUASA DUNIA, ketika SANG MAHA PENGUASA ALLOH SWT meminta pertanggungjawaban RAJA-RAJA DUNIA.
BERTOBATLAH WAHAI RAJA DUNIA!!!
___________________________________________________________________

PURWOKERTO, (PRLM).- Ny Minah (55) warga Desa Darmakradenan Kecamatan Ajibarang Banyumas Jawa Tengah bernafas lega. Nenek pencuri tiga biji bibit kakao di perkebunan PT Rumpun Sari Antan tidak menjalankan hukuman kurungan.

“Monggo kondur, jenengan mboten monten di tahan dateng penjara (Silahkan pulang Anda tidak sudah menjalani hukuman panjara,” kata Ketua Majelis Hakim, Muslich Bambang Lukmanto, kepada terdakwa pelaku pencurian seusai sidang Kamis (19/11).

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Purwokerto, menjatuhkan vonis satu bulan 15 hari dengan masa percobaan 30 hari. Dirinya dijerat pasal 362 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Mendengar keputusan tersebut nenek yang sudah renta langsung tersenyum lebar, sejak awal persidangan. Dalam pembelaan yang disampaikan secara langsung dia meminta agar hakim tidak menghukumnya. “Saya mencuri biji kakao untuk ditanam kembali, saya mohon pada Pak Hakim agar saya dibebaskan,” kata Minah dengan logak Banyumasannya yang kental saat diminta untuk mengajukan pembelaannya.

Permintaan Minah, yang bersumikan seorang pencari rumput, dikabulkan hakim mejelis, asalkan dalam 30 hari ke depan tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum pidana. “Nggeh pak hakim kulo sampun kapok (Iya pak hakim saya sudah kapok),” kata Minah dengan polosnya.

Putusan Majelis dalam menjatuhkan putusan lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntutnya dengan hukuman penjara enam bulan penjara. Dengan putusan tersebut JPU Noor Hanidah menyatakan masih pikir-pikir.

Majelis Hakim menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa hukuman penjara selama 15 hari dengan masa percobaan 30 hari. Meski dalam amar putusannya hakim majelis menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencurian.

Namun hakim berpendapat, perkara ini pencurian yang dilakukan oleh Ny Minah, karena terdorong oleh kemiskinan. Hal tersebut merupakan gejala yang tidak diberdayakannya masyarakat setempat disekitar PR RSA IV sehingga menimbulkan ketimpangan dan kecemburuan sosial.

Pimpinan sidang, Muslich Bambang Lukmanto, melihat fenomena “kasus Minah” menarik perhatian masyarakat, karena menyentuh inti kemanusiaan, melukai keadilan rakyat.” Seharusnya perkara ini tidak perlu dimejahijaukan cukup dilakukan dengan musyawarah. Lagi pula tiga biji benih kakao untuk ditanam kembali tidak sampai merugikan PT RSA,” tandasnya.

Apalagi Minah telah lanjut usia. Terdakwa merupakan petani kakao yang tidak punya apa-apa. “Tiga butir buah kakao sangat berarti bagi petani untuk dijadikan bibit dan bagi perusahaan jumlah tersebut tak berarti,” kata Muslich yang tampak terharu hingga meneteskan air mata

Putusan tersebut disambut tepuk tangan warga yang menonton sidang, beberapa orang berinisiatif mengumpulkan uang, Bahkan hakim majelis dimintai sumbangannya. Uang yang terkumpul digunakan untuk biaya pulang ke rumah.

Sebab selama menjalani masa persidangan Minah harus berhutang ke sana kemari untuk biaya transpor. Pada sidang kemarin dirinya mendapat “angpau” berisi Rp 50.000 sumbangan dari seseorang. (A-99/A-50)

4 thoughts on “Inikah Fungsi HUKUM?

  1. turut prihatin dengan tindakan kebanyakan para penegak hukum di Indonesia yang masih pilih kasih. Namun disamping itu, apresiasi juga patut diberikan terhadap Majelis Hakim yang memutus perkara Ibu Minah ini, karena Majelis Hakim dalam memutus perkara ini masih mau menggunakan Nuraninya. Saya berharap para penegak hukum yang lain, dalam menegakkan hukum di Indonesia tidak hanya mempertimbangkan aspek yuridis saja, tapi juga harus melihat aspek filosofis dan sosiologis pada setiap kasus hukum.. sehingga benar2 tercapai tujuan hukum, yaitu terciptanya kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan.

    1. Itulah yang dilupakan oleh RAJA MANUSIA di Indonesia, dengan menganggap diri sebagai konstitusionalis atau apalah sebutannya. Tapi lupa dengan penerapan asas-asas hukum lainnya… (daripada disebut lupa hari akhir…)

  2. PT Bangsat …. ngajukan perkara sama orang tua renta, Allah nitipkan kamu punya perusaha’an namun kamu tidak melihat nya, aku doakan nek… yang menyulitkan mu kelak mereka sengsara sendiri hehehe doa orang teraniyaya pasti mutajabah jarne rak modar dewe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s