Wisata Kemiskinan Jakarta Dulu Cuma Tonton di TV, Kini Bule Bisa Jelajahi Sendiri

Rabu, 13/01/2010 11:12 WIB
Deden Gunawan – detikNews

Jakarta – Ruang tamu itu terlihat sangat berantakan. Kardus-kardus berisi pakaian, sepatu, dan tas bekas terserak di lantai. Meja tamu tertutup dengan tumpukan buku, majalah, dan koran.

Seperangkat komputer tergeletak di sudut ruangan tersebut. Di ruangan inilah sang tuan rumah, Ronny Poluan, menjalankan bisnis perjalanan wisata Jakarta Hidden Tour (JHT).

“Beginilah tempat saya bekerja. Maaf agak berantakan,” jelas Ronny saat detikcom menyambangi rumahnya di Pondok Kelapa Blok 5A, No 8, Jakarta Timur, Rabu (13/1/2010).

Baru saja perbincangan dimulai, Ronny langsung menjelaskan perihal kardus-kardus yang terserak di ruang tamu. Menurutnya, 15 kardus berisi pakaian, sepatu dan tas bekas itu merupakan pemberian dari kliennya, para turis asing yang sempat diantar melihat daerah-daerah miskin di Jakarta. Barang-barang itu datang dua hari lalu untuk nantinya dibagikan kepada warga miskin yang sudah didatangi.

“Turis-turis yang pernah saya antar ke daerah kumuh meminta saya untuk menyalurkannya ke tempat-tempat yang sebelumnya mereka kunjungi,” ujarnya.

Dikatakan Ronny, para turis yang pernah diantarnya mengunjungi daerah kumuh di Luar Batang, Galur, dan Kampung Pulo, juga mengirimkan uang dengan jumlah yang bervariasi. Ada yang mengirimkan Rp 1 juta, ada juga yang mengirim Rp 5 juta. Uang-uang tersebut, kata Ronny, sudah disalurkan kepada masyarakat di tiga wilayah tersebut.

Sejak Januari 2008, Ronny memang mulai menjalankan usaha perjalanan wisata yang sangat unik. Ronny menawarkan tur ke daerah kumuh di Jakarta dan bukan lokasi bersejarah atau tempat-tempat indah dan modern, seperti yang dilakukan sejumlah biro perjalanan wisata pada umumnya.

Gagasan paket wisata kemiskinan di Jakarta bukan sengaja direncanakan oleh Ronny. Semua terilhami saat Ronny mengantarkan seorang fotografer Prancis, Herve Dangla mengunjungi Museum Bahari, di daerah Pasar Ikan, Jakarta Utara. Saat itu Herve merasa kurang puas kalau mereka hanya memfoto-foto benda tidak bergerak.

Lantas, ia pun bertanya kepada penjaga museum yang bernama Maskun, dimanakah Maskun tinggal. Ternyata tidak jauh. Maskun tinggal di Luar Batang yang hanya ratusan meter dari museum. Ronny dan Herve langsung meminta diajak ke rumah Maskun. Ketika tiba di rumah Maskun, Ronny dan Herve mendapatkan sambutan yang sangat hangat sekalipun kehidupan Maskun memprihatinkan. Perjalanan itu menjadi sangat berkesan untuk Herve, turis yang dibawa Ronny.

“Saya dan teman saya saat itu merasa enjoy. Tidak ada rasa takut maupun risih berbincang-bincang dan foto-foto di lingkungan rumah Maskun,” kenang Ronny.

Nah, dari pengalaman itu Ronny pun terpikir untuk mengajak orang asing
berkunjung dan melihat-lihat daerah kumuh, seperti Luar Batang. Bagi Ronny, kondisi kumuh bukan suatu hal yang menjijikan untuk dikenang. Potret kemiskinan ternyata dinilai para turis bule sebagai sesuatu yang eksotis dan unik.

Apalagi banyak turis asing yang sudah jenuh dengan suasana Jakarta yang modern, seperti yang ditawarkan biro perjalanan wisata lainnya. “Bule-bule itu sudah bosan melihat gedung bertingkat. Negara mereka jauh lebih maju dari Jakarta,” ujar Ronny.

Pendapat Ronny ternyata terbukti. Sebagian besar turis asing serta kenalan yang diantarnya mengucapkan kekaguman atas paket wisata unik dari Ronny. Mereka bilang, dengan mengunjungi daerah miskin di Jakarta, mereka punya gambaran utuh. Selain itu, mereka terpuaskan karena bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat Indonesia di lapisan ekonomi terbawah yang sebelumnya hanya mereka saksikan di televisi, atau pemandangan sekelebatan dari bus wisata atau taksi yang mereka tumpangi.

Sayangnya, meski paket wisata yang ditawarkan Ronny banyak mendapat decak kagum dari turis yang mengikutinya, tidak demikian dengan pemerintah. Paket wisata yang tidak biasa ini menuai protes dari Pemprov dan DPRD DKI Jakarta karena dianggap telah mengeksploitasi kemiskinan.

Pemprov dan DPRD DKI Jakarta menganggap paket wisata yang mengunjungi
kantong-kantong kemiskinan telah melenceng dari tujuan kepariwisataan. Yang disodorkan Ronny bukanlah keindahan, melainkan kemiskinan dan kekumuhan. Bahkan ada yang menuding Ronny hanya ingin mencari untung dari menjual kemiskinan warga Jakarta. Menanggapi hal itu, Ronny hanya tertawa. Sambil berkelakar ia mengatakan, lebih baik menonjolkan kemiskinan daripada memamerkan kekayaan.

“Kita hanya mengajak para turis melihat realita apa adanya. Sejauh ini tanggapan mereka sangat positif kepada masyarakat kita. Bahkan mereka siap membantu,” kata Ronny.

Ia juga membantah kalau aktivitas yang dilakukannya hanya mencari untung semata. Sebab, uang yang dibayarkan para turis, sebagian disalurkan kepada kelompok masyarakat yang menjadi obyek wisata tersebut.

Sebagai informasi, paket wisata kemiskinan yang dilakukan JHT bila dikurs ke dalam rupiah tarifnya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga yang dipatok masih bisa ditawar, tergantung negosiasi. Tapi memang, aku Ronny, kebanyakan turis asing tidak suka tawar-menawar. Bila mereka merasa cocok maka langsung membayar.

Kata Ronny, kegiatan wisata ke lokasi kumuh tersebut tidak untuk mencari keuntungan. Tujuan sesungguhnya adalah membuka pintu interaksi sosial budaya bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat dari dunia lain.

“Kalau untuk biaya operasional saya sudah ditanggung salah satu pendana,” pungkas pria berambut putih tersebut.

(ddg/fay)

One thought on “Wisata Kemiskinan Jakarta Dulu Cuma Tonton di TV, Kini Bule Bisa Jelajahi Sendiri

  1. saya tertarik dengan wisata ini, kalau boleh saya ingin meminta no telepon Pak Ronny yg bisa dihubungi…

    -terima kasih-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s