“Manusia Korup Itu Mentalnya Kumuh”

Wawancara Busyro Muqoddas

Busyro Muqoddas sudah mempersiapkan sejumlah agenda perubahan bagi KPK.

Selasa, 28 September 2010, 10:02 WIB

Arry Anggadha, Aries Setiawan

Busyro Muqoddas (ANTARA/Puspa Perwitasari)

VIVAnews – Panitia Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi telah memilih dua calon pengganti Antasari Azhar. Mereka adalah Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto.
Bagi Busyro Muqoddas, jika dia dipilih menjadi pimpinan KPK, maka hal yang akan dibenahi pertama kali adalah membangun satu konsep besar mengenai sistem kepemimpinan di KPK. “Perlu dibenahi juga sistem kelola keuangan yang transparan, profesional, dan akuntabel,” kata Busyro saat ditemui VIVAnews di kantor Komisi Yudisial, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Busyro saat ini masih menjabat sebagai Ketua Komisi Yudisial. Pria kelahiran Yogyakarta 17 Juli 1952 itu berjanji akan membenahi persoalan adanya upaya pelemahan terhadap KPK. “Persoalan itu yang menjadi agenda ke depan,” ujarnya.

Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan Busyro:

Apa hal yang akan dibenahi jika duduk sebagai pimpinan KPK?

Itu terkait dengan visi yang saya usung. KPK ini perlu membangun satu konsep besar mengenai sistem kepemimpinan dan sistem tata kelola keuangan negara yang transparan, profesional dan akuntabel. Dua variabel utama itu penting, sistem kepemimpinan dan sistem kelola keuangan. Dua hal itu erat kaitannya dan tidak bisa dipisahkan. Kalau ada orang  mengatakan kalau organisasi rusak, mesti sistem itu yang rusak. Saya ga percaya. Yang rusak itu pemimpin dan sistemnya. Organisasinya rusak atau diselewengkan. Oleh karena itu harus dalam satu bangunan. Itu visi besar saya.

Yang perlu dibenahi di KPK?

Penjabaran visi besar itu tentu langkah pertama konsolidasi organisasi. Menyangkut SDM, budaya organisasi, tata kelola organisasi, tunggakan perkara yang belum selesai, untuk ditakar aspek pembuktian. Itu beberapa hal yang perlu dikonsolidasi. Siapapun yang terpilih, konsolidasi tidak bisa dilakukan sendirian. Sehingga dia perlu kerjasama dengan empat anggota lain dan semua jajarannya.

Langkah-langkahnya?

Konsolidasi itu langkah utama. Nah, setelah itu baru langkah-langkah memperkuat prinsip-prinsip trust dengan kepolisian dan kejaksaan. Disamping itu juga dengan birokrasi pemerintah dan lembaga pemerintah. Juga jangan lupa dengan civil society. Saya mendasarkan pada satu pengalaman manajemen organisasi, bahwa lembaga apapun pasti selalu perlu dikondisikan untuk bisa lebih sinergis dengan lembaga-lembaga lain. Dan itu yang saya lakukan di Komisi Yudisial saat ini.

Prioritas perkara yang akan dikerjakan?

Tadi saya bilang, konsolidasi itu menyangkut maping perkara. Menakar pembuktiannya. Sehingga dari situ baru ditemukan skala prioritasnya. Bisa century, bisa yang lain. Kalau memproses kasus-kasus hukum harus dengan bukti-bukti. Hukum pembuktian, ada di KUHP, KUHAP.

Dalam menghadapi tekanan politik atau yang lain?

Saya melihat justru sebaliknya. Bagaimana KPK itu mampu membangun sinergi untuk mengurangi tekanan-tekanan politik itu. Katakanlah tekanan itu datang dari pemerintah dan politisi. Pertanyaannya, pemerintah itu punya komitmen pemberantasan korupsi nggak? Jawabannya, iya. Politisi, itu kan parpol. Parpol punya agenda pemberantasan korupsi nggak? Jawabannya pasti, iya. Nah, saya berangkat dari hal itu. Bagaimana mereka ini diposisikan bersama untuk membedah peta dan problematik korupsi secara bersama.

Sehingga, dengan mereka ini kita mempunyai come on enemy yang namanya korupsi yang semakin menggila ini. Tidak ada satu parpol yang menolak. Karena parpol satu misi ideologinya ada elemen moralnya, yang salah satunya mengusung good governance. Tidak mungkin mengusung good governance lalu lemah dalam menyikapi korupsi.

Anda melihat dengan banyaknya usaha melemahkan KPK?

Justru itu ada persoalan. Persoalan itu yang menjadi agenda ke depan. Itulah yang namanya agenda kepemimpinan. Pemimpin itu tidak akan berfungsi ketika tidak menemukan masalah, dan ketika menemukan masalah tidak bisa diatasi. itu bukan pemimpin. Jadi harus bisa mengatasi. Punya spirit dan konsep. Itu pemimpin. Bedakan, pejabat negara itu ada yang pemimpin juga ada yang pengurus. Pengurus itu hanya mengurusi administratif, juklak, juknis. Itu pengurus. Tapi kalau pemimpin, tidak harus jadi pejabat. Wartawanpun bisa jadi pemimpin. Tulisannya bisa mengubah cara pandang orang. Itu pemimpin. Begitu tajamnya pena wartawan, jika yang dirumuskan itu dapat mempengaruhi orang banyak. Setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Bagaimana Anda melihat sistem pencegahan di KPK?

Cukup baik, tapi harus ditingkatkan. Berbagai sistem pencegahan sudah berjalan baik.

Menurut Anda, kebijakan yang berpotensi korupsi itu seperti apa?

Yang memang dirancang untuk korup. Dirancang sejak awal untuk korup. Itu bisa undang-undang, kebijakan pemerintah, daerah atau lokal. Di tangan penguasa yang koruptif, maka kebijakan itu bisa sengaja dibuat untuk melakukan korupsi. Itulah namanya kleptokrasi. Kalau birokrasi itu sudah dibangun agar orang-orang yang menjabat bisa mencuri, yang kemudian dikenal dengan kleptokrasi. Wah, itu bisa jadi korupsi sepanjang masa itu. Kenapa orang banyak yang kepengen sekali jadi pejabat, padahal untuk jadi pejabat dia harus ngutang sana, ngutang sini. Karena dia tahu itu, ada kebijakan yang bisa diatur.

Dengan kebijakan yang korup itu, apa yang akan Anda lakukan?

Sebagai seorang akademisi, agenda pertama itu maping. Database penting, hasil survey ditelaah. Hasil analisisnya bisa dibuka dan dibahas dengan berbagai kalangan. Depdagri, ini lho. Menteri Keuangan, ini lho dan sebagainya. Makanya, fungsi mengajak itu adalah fungsi leadership. Leadership itu adalah yang dapat mempengaruhi orang lain agar komit, menuju ke jalan hidup yang lurus. Itu leadership. Leadership yang benar. Leadership yang tidak benar, mempengaruhi orang lain menjadi maling-maling. Itu leader yang palsu. Kebanyakan yang palsu di Indonesia ini. Karena banyak ngajak yang buruk, daripada ngajak yang benar.

Terkait desakan dewan untuk menuntaskan kasus Century?

Bukan hanya Century saja. Mungkin saja nanti ada yang lain, ada yang pajak, ada cek perjalanan. Semua saja, justice all. KPK sendiri tidak bisa teriak-teriak, jika tidak punya bukti-bukti yang kuat. Kalau bukti sudah kuat, ya nggak perlu lagi teriak-teriak, tinggal action. Saya tidak suka teriak-teriak. Rakyat ini butuh yang action.

Kalau ditanya oleh dewan soal Century?

Kalau ditanya saya jawab. Kalau sekarang saya jawab, belum ditanya, bagaimana. Semua pertanyaan yang ditanyakan nanti saya usahakan saya jawab. Ya, kalau tidak lulus Alhamdulillah. Lulus, Innalillah. Back to campus, ngajar.

Aktivitas olahraga saat ini?

Olahraga ya. Fitness. Kalau di rumah, di Jogja sana jogging, naik sepeda ke desa-desa. Kalau saya pulang ke Jogja, banyak pelajaran yang saya dapat di jalan-jalan ketika naik sepeda. Kalau di Jakarta kan, banyak gedung angkuh, apartemen angkuh. Tidak ada pelajaran kemanusiaan di Jakarta ini, kering. Olahraga minimal seminggu tiga kali.

Aktivitas apa yang akan Anda terapkan untuk pegawai KPK supaya semangat?

Di situ bukan bekerja, tapi berjuang. Jihad kemanusiaan. Artinya, pemberantasan korupsi ini bisa memanusiakan manusia. Bayangkan kalau tidak ada korupsi itu kan, sekian juta orang bisa sekolah,dan bisa berkeadaban. Manusia yang korup itu mentalnya kumuh, tidak beradab lagi. Manusia yang pra historis itu. Hakekatnya kasihan dia (koruptor). Melawan korupsi itu bukan melawan koruptor. Yang dibenci itu kelakuannya.

Soal remisi, grasi, dan asimilasi?

Itu harus ditata ulang. Undang-undang yang terkait itu harus direvisi. Yang namanya undang-undang itu juga harus dievaluasi. Ketika konteksnya sudah berubah, maka undang-undang itu layak direvisi. Ya itu nantilah, bagian dari konsolidasi nanti. Berarti kan harus sinergis dengan DPR. Membangun semangat anti korupsi itu kan harus dengan semangat kerjasama.

Tiga hal itu tidak tepat?

Tergantung konteksnya dulu. Kalau untuk koruptor-koruptor yang dengan alasan tidak sesuai, no way!

(umi)

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s