Adrianus Meliala: Bisa Jadi Ada Kelompok Penerima Uang Gayus Lainnya

Kamis, 11/11/2010 13:49 WIB

Nurvita Indarini – detikNews


Jakarta – Perbincangan tentang Gayus Tambunan belum juga usai. Setelah menjadi terdakwa dugaan kasus mafia pajak, kabar heboh mencuat lagi dengan beredarnya foto pria mirip Gayus yang sedang menonton tenis di Bali.

Gayus menyangkal dirinya pergi ke Bali. Namun 9 penjaga Rutan Brimob, Kelapadua, Depok, Jawa Barat, telah diperiksa dan dicopot dari pekerjaannya. Cukupkah kasus berhenti sampai situ? Keputusan selanjutnya berada di tangan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo.

Menurut kriminolog UI, Adrianus Meliala, bisa jadi ada kelompok-kelompok penerima uang Gayus lainnya yang membuat Gayus menikmati fasilitas yang tidak dinikmati tahanan lainnya. Baunya gampang dicium namun menunjuk orangnya tidak gampang.

Berikut ini wawancara detikcom dengan akademisi yang pernah menjadi penasihat Kapolri ini, Kamis (11/10/2010):

Sepertinya polisi sangat lambat karena penyelesaian ‘kaburnya’ Gayus masih berkutat di pemeriksaan 9 penjaga rutan?

Itu terserah kepada Kapolri, mau sekadar persoalan oknum atau akuntabilitas. Kalau hanya oknum maka cukup sekadar copot, ganti, hukuman disiplin. Kalau akuntabilitas tidak bisa itu saja. Akuntabilitas juga ada dua, pendek dan luas.

Pada setiap tugas kepolisan ada unsur kepercayaan tapi juga tidak bisa mengabaikan kompetensi. Karena itu di pihak lain perlu pengawasan internal. Tentunya ini untuk mengetahui apakah aparat telah menjalankan tugas atau belum. Perlu sistem yang menjaga agar aparat tidak salah langkah. Karena itu saya rasa akuntabilitas harus ada, perlu ada. Itu akuntabilitas pendek.

Lalu ada pula akuntabilitas luas. Jadi Polri tidak memiliki hak membangun rutan dan LP karena itu wewenang Ditjen Pemasyarakatan. Setiap satuan wilayah kepolisan baik itu Polres, Polsek, atau Polda kan membangun rutan juga. Ini tidak bisa berdiri berdiri sendiri melainkan harus kerja sama dengan induknya yaitu Ditjen Pemasyarakatan. Ada kerjasama berbagai rutan yang dikelola kepolisian dengan pihak yang punya kewenangan. Ini juga sama dengan rutan yang berada di bawah kejaksaan.

Kepolisian tidak memiliki kewenangan dalam menyelenggarakan fungsi lapas. Hanya
bisa dilakukan Ditjen Lembaga Pemasyarakatan yang dibangun pemerintah. Keberadaan rutan dan lapas di satuan wilayah kepolisian dan kejaksaan itu salah. Ini dalam konteks akuntabilitas luas.

Jadi Pak Timur mau yang mana ini, mau cukup menghukum, atau ada pengawasan internal, atau menjadikan ini sebagai momentum mengembalikan konteks rutan dan lapas diurus Ditjen Lapas. Bukan berarti fungsi dipotong tapi pembenahan.

Sepertinya polisi lebih cenderung memilih yang mana?

Arahnya hanya ke 9 orang itu saja. Kalau tidak periksa macam-macam, hanya ke 9 orang itu ya akar masalahnya tidak terlihat. Masalah juga tidak akan selesai. 9 Orang itu dapat uang dan tidak punya kalkulasi rasional. Mereka terperosok dalam lubang yang mereka buat sendiri.

Kalau Gayus mudah ‘kabur’ maka ada banyak Gayus Gayus lainnya?

Kalau dalam konteks pelepasan dari tahanan, 9 orang itu memang harus diproses. Tapi saya yakin ada kelompok yang katakanlah menerima uang Gayus untuk ‘fasilitas’ lainnya. Contohnya, kalau menunggu persidangan, untuk mendapatkan ruang khusus yang ber-AC pasti harus setor ke kelompok lain. Biar nggak nunggu lama sidang, setor lagi. Ada banyak kelompok yang memberikan kemudahan. Ini dalam konteks Gayus mendapatkan cuti tahanan.

Yang seperti ini mudah dibaui atau diendus ketimbang dibuktikan. Sulit kalau harus menunjuk yang mana orangnya.

Karena uang, dia mudah ‘keluar’?

Dalam kasus ini, dia mendapatkan kemudahan. Polisinya maupun pihak Gayus sama-sama jaga, mengerem, menjaga agar jangan sampai ketahuan dan kelihatan. Dalam kasus Gayus ini nampaknya pihak Gayus dan 9 penjaga itu over confidence, jumawa, tidak akan ketahuan.

Mungkin kalau dari sisi Gayus, merasa selama ini menikmati berbagai ‘jasa’ dengan kekuatan uang, dia punya keyakinan bahwa dengan uang semua bisa dibeli. Jadi dia pede saja mau pergi sampai ke mana.

Perlukah dibentuk tim investigasi untuk Gayus?

Kalau Kapolri hanya fokus pada penghukuman 9 orang ini maka pasti nggak perlu berpikir membentuk tim investigasi. Tapi kalau ingin lebih dalam ya saya rasa perlu. Ini tergantung maunya Pak Timur. Keputusannyanya akan diejawantahkan dalam kegiatan yang dilakukan.

Kalau Gayus terbukti kabur, maka hukumannya nanti bisa lebih berat?

Gayus ini masih dalam status tahanan. Semua orang yang di tahanan itu inginnya lari. Penjara itu kan membuat orang menjadi inkapasitasi, orang dipotong kemampuannya untuk pergi-pergi secara sepihak oleh negara.

Ketika orang-orang itu diberi kesempatan ya kemudian dipakai. Tapi jangan hanya menyalahkan Gayus. Semua orang seperti Gayus juga akan pergi. Tapi lihat lebih luas lagi. Ada oknum dan ada sistem yang pelaksanaannya diselewengkan.

Jika terbukti, apakah istri Gayus juga harus ditindak pidana?

Pidana seperti the ultimum remedium atau senjata terakhir. Jangan semua dilihat kalau dipidana selesai, lalu melupakan yang lain-lainnya. Menjadi seperti ini juga kan karena ada kesempatan yang diberikan para penjaganya.

Kalau tidak ada kesempatan yang diberikan, maka nonton tenis itu juga tidak akan ada. Tujuan awalnya ada pada aparat yang melaksanakan tugas. Maka itu perlu akuntabilitas pendek yang nantinya agar polisi tidak repot kembalikan fungsi rutan dan lapas ke Kementerian Hukum dan HAM.

Gayus bisa digunakan untuk menguak soal suap di Rutan Brimob?

Bisa jadi. Sekali lagi, di rutan itu menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya menjadi inkapasitasi. Kalau dilepaskan sekali ya inginnya lari, apalagi punya duit. Ini kesalahan juga ada pada sistem. Maka perlu pembenahan agar nggak ada lagi kasus serupa.

(vit/vit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s