Memenej emosi dengan Bike to Work

Beberapa hari ini saya mencoba mengejar ketertinggalan saya, menyukseskan keinginan sebagian rakyat jakarta dalam mendukung jakarta hijau, bebas kemacetan, dengan berangkat ke kantor mengendarai sepeda (bike to work). Mengembalikan hobby yang ditinggalkan sejak lulus SMA, kira-kira 15 tahun lalu. Juga meng-upgrade kondisi tubuh, karena selama puasa, tidak ada yang berkenan bermain futsal.

Sebelum menempuh rute dari rumah ke kantor, terlebih dahulu saya memelajarinya dari maps.google.co.id. saya mencoba berbagai alternatif rute, namun saya coba hindari rute yang biasa saya lewati bila bersepeda motor, dan yang tidak dilewati metro mini atau kopaja (u know why?). Karena saya pikir, gak ada nilai tambahnya kalo jalurnya sama saja. Alhamdulillah, rute rumah kantor, ternyata banyak jalan yang bisa dilalui.

Hari pertama bersepeda di hari puasa, alhamdulillah tidak ada hambatan, karena pada saat sahur, saya berpesan agar menyiapkan makan sahur yang berenergi dan minum air jernih setidaknya 2 liter. Kebiasaan mengendarai sepeda motor masih belum bisa saya ubah, tidak bisa melihat kendaraan “mengura-ngura” pengennya nyalip aja. Saya lupa, kecepatan sepeda maksimal dijalan macet 20 km/jam. Ketidakmampuan untuk menyalip menyisakan kejengkelan dalam hati. Saya merasa jalan adalah milik saya, saya tidak mau jalur di depan saya dihalang-halangi kendaraan lain. Kondisi jalan menanjak, apalagi pada saat pulang ke rumah, energi makan sahur sebagian sudah digunakan, ditambah emosi karena merasa dihalang-halangi membuat nafas tersengal serasa diburu. Terlebih lagi, ketika saya melewati rute baru, ternyata tidak semudah yang tergambar di peta google, makin meninggi emosi saya.

Emosi menguras sisa energi yang ada. Sampai di rumah, sisa emosi di jalanan masih terbawa. Orang rumah menjadi sasaran, menjadi orang yang paling benar, tidak mau mendengarkan kalimat bernada mengoreksi, bawaannya ngambek aja.

Hari ini, sebelum pulang kantor, saya benar-benar menghafal mati rute yang akan dilewati. Bersepeda mulai menjaga ritme mengayuh, rata-rata 17 kmh rasanya cukuplah. Saya bisa melewati rute, tikungan, perempatan, pertigaan dengan lancar, gak pake acara kesasar, yang memaksa membuka peta google di blackberry. Saya mulai mengendalikan diri, mengatakan pada emosi, bahwa jalan yang dilewati milik bersama, tidak ada yang superior, tidak ada yang VVIP, saling memberikan kesempatan, berterimakasih apabila dipersilakan jalan mendahului oleh pengendara lain.

Sampai di rumah, hal yang berbeda dirasakan oleh tubuh saya. Tidak ada lagi perasaan lelah, yang biasanya sampai rumah “ndlosor”, hari ini sepertinya tidak perlu lagi.

Pelajaran yang saya ambil adalah :

1. Buat perencanaan dengan matang (menyiapkan rute)

2. Konsisten dengan perencanaan itu (menjalani rute dengan benar)

3. Tidak terburu-buru (tidak ada yang perlu dikejar, target eta 30 menit untuk 9 km)

4. Lebih memberikan kesempatan kepada orang lain (sadar bahwa jalan adalah milik bersama)

5. Menghormati orang lain (menghormati sesama pengguna jalan, berendah hati efektif menekan emosi yang meluap-luap)

Insya Alloh, itulah ibroh yang saya ambil dalam bersepeda di bulan ramadhan. Semoga Alloh swt meridhoinya. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s