Anatomi Dugaan Korupsi si Terbaik

Anatomi Dugaan Korupsi si Terbaik Reza Indragiri Amriel ; Dosen Psikologi Forensik , Universitas Bina Nusantara

JAWA POS, 22 Agustus 2012

RUMUS psikologinya sudah jelas: perilaku adalah fungsi individu dan lingkungan. Dalam konteks perilaku koruptif berarti aksi busuk itu merupakan hasil interaksi diri pelaku dengan pengaruh lingkungan. Lebih spesifik, jika korupsi dilakukan polisi, lingkungan dimaksud adalah organisasi kepolisian.

Dihubungkan dengan Irjen Djoko Susilo (DS), perwira tinggi Polri yang akan diciduk KPK dengan tuduhan korupsi simulator SIM, rumus psikologis di atas dapat diuraikan sebagai berikut.

Dimulai dari dimensi pribadinya. Andai dia (dan komplotannya) kelak terbukti korupsi, ada banyak unsur psikologis yang patut dicermati. Salah satunya terkait profil DS yang, menurut kabar, merupakan lulusan terbaik salah satu jenjang pendidikan Polri.

Pantas dipertanyakan, apabila lulusan terbaik saja sedemikian koruptif, apalagi para lulusan yang berkualitas ala kadarnya. Salah satu teori tentang perilaku koruptif menjelaskan bahwa korupsi merupakan kompensasi individu dengan kompetensi kerja yang buruk. Kapasitas profesional yang tidak memadai mengakibatkan stagnan, bahkan mundurnya, karir si pekerja. Perjalanan karir seperti itu berimbas pada kian buruknya kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Korupsi pun menjadi jalan pintas menyimpang untuk mengatasinya.

Penalaran di atas dapat berlaku bagi personel-personel yang lulus dengan kualitas medioker ataupun rendah. Namun, karena DS disebut-sebut sebagai lulusan terbaik, teori tadi justru terbantahkan. Itu seandainya dapat dipastikan bahwa lembaga pendidikan (lemdik) Polri memiliki tolok ukur dan mekanisme penilaian yang jelas, dan DS merupakan keluaran dari tolok ukur dan mekanisme tersebut. Sebaliknya, apabila standar penilaian lemdik Polri dapat “diimprovisasi” sekehendak hati, legitimasi atas kualitas terbaik yang dimiliki DS itu bisa digugat.

Ketika persoalan (dugaan) korupsi simulator SIM ini dibawa ke perspektif empiris yang lebih luas, faktanya adalah seluruh kajian tentang korupsi kepolisian sudah sampai pada simpulan bahwa semua organisasi kepolisian niscaya terjangkiti korupsi. Dengan kata lain, korupsi sudah menjadi tabiat banyak personel polisi. Jika itu dijadikan pijakan, tidak lagi relevan untuk mempertanyakan ada tidaknya korupsi di institusi Polri. Sama tidak masuk akalnya dengan menampilkan reaksi defensif, yaitu mengklaim bahwa Polri bersih dari bentuk pemolisian memangsa (predatory policing) ini. Fokus yang tepat adalah seberapa besar takaran korupsi Polri dan bagaimana mengatasinya.

Bertitik tolak dari situ, saya tidak begitu yakin bahwa DS, si lulusan terbaik, menjadi personel korup akibat dominannya faktor pribadi. Faktor situasi atau lingkungan, saya duga kuat, lebih besar pengaruhnya terhadap personel polisi dari yang semula berpotensi positif menjadi beraktualisasi negatif. Kalahnya faktor individu DS, secara spekulatif, adalah manifestasi luar biasa toxic-nya institusi tempatnya bekerja.

Jadi, jika nanti terbukti korupsi, apakah DS bisa digolongkan sebagai individu yang tidak punya integritas? Ya, tapi belum tentu sesederhana itu. Dengan asumsi DS awalnya orang baik, dia takluk oleh tekanan organisasi. Dengan pemahaman seperti itu, kian kuat argumentasi bahwa bahasan tentang korupsi polisi sebaiknya tidak sebatas berkutat pada diri pelaku kejahatan (offender), tapi harus ke kejahatan (offence) korupsi itu juga. Dan, karena kejahatan korps sudah menjadi fenomena kronis-sistemik, Polri berpotensi menjadi objek perombakan pada berbagai sisinya. Meminjam istilah Kapolri Jenderal Timur Pradopo, bukan lagi “grebek serse” yang patut dijadikan program primadona, tapi “grebek korupsi internal” yang tak bisa ditunda.

Mana Materi Antikorupsi?

Karena yang menjadi sasaran “perang puputan” terhadap korupsi polisi adalah kejahatan dan lembaganya, bukan sebatas pelaku individual, saya memandang kasus dugaan korupsi simulator sebaiknya ditangani KPK. Alasannya, kendala yang mencakup realita sistem serta realita psikologis-kultural yang tipikal menjadi ciri organisasi kepolisian.

Dari segi sistem, pertama, saya tidak percaya Polri memiliki data tentang korupsi internal. Dasarnya, hingga saat saya menulis artikel ini, saya tidak menemukan informasi tentang hal tersebut pada laman resmi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri. Demikian pula laman resmi Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Ketiadaan data tersebut tampaknya mencerminkan mentradisinya code of silence.

Kedua, saya mempertanyakan muatan kurikulum lemdik Polri. Adakah materi tentang korupsi kepolisian di dalamnya? Ketiga, Polri tidak memiliki success rate yang meyakinkan dalam menangani korupsi, apalagi (dugaan) korupsi internal. Success rate yang rendah menjadi gambaran buruknya tingkat kesegeraan dan keajegan kerja Polri dalam pemberantasan korupsi. Padahal, keduanya merupakan kunci penjeraan sekaligus penangkalan (detterence effect).

Dari segi psikologis-kultural, pertama, pengalaman korupsi dilakukan sejak personel menjalani masa penugasan pertama. Kedua, bergulirnya siklus Mollen (Mollen cycle), yakni penyelia (atasan) langsung menjadi pihak pertama yang menciptakan kondisi bagi dilakukannya korupsi. Ketiga, mendarah-dagingnya persekongkolan tutup mulut atau code of silence.

Sembari menegaskan bahwa KPK sebagai pihak yang lebih saya andalkan untuk mengusut tuntas (dugaan) korupsi simulator SIM, saya melihat ada dua tantangan yang perlu diatasi. Terutama, saya belum menemukan preseden bahwa di negara-negara lain korupsi kepolisian berhasil ditekan jika hanya dilakukan pihak eksternal.

Jelas, orang nomor satu di republik ini perlu lebih sigap dan tegas bersikap: jangan hanya responsif menangkis isu-isu yang eksplisit menyebut namanya. Kepemimpinan yang lembek membuat dia turut bertanggung jawab terhadap kian kolapsnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri, akibat konflik penanganan kasus simulator SIM ini! Dan, ingat, sang presiden adalah lulusan Akabri Angkatan Darat terbaik. ●

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s